UT Pokjar Lebaksiu

Sumber informasi & Silaturrahmi Mahasiswa

Format Kurikulum dan Strategi Pembelajaran

Dari masa kemasa pemecahan masalah mutu dan relevansi pendidikan dilakukan dengan perbaikan dan penambahan seluruh komponen seperti: sarana prasarana sekolah; kualitas, kuantitas, kesejahteraan, dan sebaran penempatan pendidik dan tenaga ke pendidikan; kurikulum dan pembelajaran; serta penilaian hasil belajar.

Namun kontroversi tentang ketepatan pemecahan masalah itu selalu mencuat dan membuahkan pomeo ganti pejabat ganti kurikulum, ganti pejabat ganti kebijakan. Kontroversi itu seolah merefleksikan ketidakpercayaan publik terhadap pendekatan yang sedang diberlakukan, padahal semua aspek dalam sistem pendidikan telah dipikirkan, direncanakan, dan dilaksanakan. Secara singkat berikut ini berbagai perubahan pendekatan yang pernah kita laksanakan untuk mencari strategi pembelajaran dan pendidikan yang tepat:

1. Program Pengembangan Sistem Instruksional ( PPSI )
Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) adalah salah satu pendekatan dalam mendesain suatu program pembelajaran khususnya berguna sebagai acuan untuk menyusun Rencana Pembelajaran atau Satuan Pembelajaran oleh guru (Hamalik, 2005). Nama PPSI mulai popular seiring dengan pemberlakuan kurikulum 1975. Pendekatan yang digunakan dalam penerapan kurikulum 1975 memang berorientasi pada tujuan. Sistem ini senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang khusus, dapat diukur, dan dirumuskan dalam bentuk perilaku peserta didik. Kata “Sistem Instruksional” dalam PPSI merujuk pada suatu sistem, yang terdiri dari komponen-komponen yang berhubungan satu dengan yang lain dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Pembelajaran sebagai sebuah sistem terdiri dari berbagai komponen, seperti bahan atau materi, kegiatan pembelajaran, dan alat evaluasi, merupakan beberapa komponen yang saling berpengaruh untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Harjanto, 1997). Harapannya, dengan diterapkannya PPSI, guru dapat mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Beberapa langkah pengembangan dari PPSI yang digunakan guru sebagai kerangka pikir dalam menyusun sebuah Rencana atau Satuan Pembelajaran adalah Perumusan Tujuan Pembelajaran, Pengembangan alat Evaluasi, Perencanaan Kegiatan Pembelajaran, Pengembangan Program kegiatan, dan Pelaksanaan Program.
Terdapat kritik terhadap implementasi PPSI dikalangan para guru. Prosedur ini membawa konsekuensi terhadap beban kerja guru dan juga Kepala Sekolah bertambah di bidang pengadministrasian dokumen seperti penyusunan satuan pembelajaran yang detil, termasuk penyusunan alat evaluasi yang harus dapat mengukur tujuan pembelajaran. Sehingga bukannya tidak mungkin, guru harus merevisi rancangan atau satuan pembelajarannya agar seluruh komponen sesuai dan yakin dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pada saat itu, hal tersebut dirasakan cukup berat dikaitkan dengan pendapatan yang tidak seimbang (Hamalik, 2005). Juga yang dikemukakan oleh Soedijarto dalam penerapan PPSI saat pelaksanaan kurikulum 1975, yang terlalu menaruh harapan tinggi terhadap guru yang menerapkan PPSI yang sebenarnya harus dilakukan oleh tenaga profesional, sehingga dibutuhkan peningkatan kompetensi dan keahlian yang mendasar dari profesi guru (http://www.jakartateachers.com/4429.htm).

2. Cara Belajar Siswa Aktif ( CBSA )
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau dalam bahasa Inggris disebut student active learning adalah satu pendekatan belajar yang memfokuskan pembelajaran pada siswa. Pendekatan ini mulai dikenal pada pertengahan tahun 80an sebagai jawaban terhadap keluhan masyarakat bahwa pembelajaran di kelas lebih teacher oriented dengan banyak menggunakan metode ceramah sehingga siswa cenderung pasif. Dalam CBSA, siswa terlibat aktif baik secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang optimal. Dengan adanya keterlibatan mental, intelektual, dan emosional memungkinkan terjadinya proses asimilasi dan akomodasi kognitif dalam mencapai pengetahuan. Dengan menerapkan CBSA, pembelajaran diarahkan kepada proses yang mampu memberikan siswa pengetahuan dan kemampuan berfikir kritis, logis, dan sistematis, serta keterampilan dalam menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan; mampu memupuk kemauan dan kebiasaan untuk terus menerus belajar; serta memberikan keterampilan menerapkan hasil belajar untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Karyadi (2005) menjelaskan bahwa terdapat empat prinsip CBSA yang harus dipehatikan dalam menerapkannya. Keempat prinsip tersebut adalah keterlibatan siswa dan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran, bahan kajian yang diajarkan, serta situasi pembelajaran. Keterlibatan siswa dapat dilihat dari keberanian mewujudkan minat, keinginan, dan gagasan, peran serta siswa dalam persiapan proses pembelajaran, kemampuan dan kreativitas dalam melaksanakan kegiatan belajar, rasa aman dan bebas melakukan sesuatu, serta rasa ingin tahu. Sementara itu, keterlibatan guru dapat dilihat dari cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai macam kegiatan belajar, menciptakan berbagai situasi belajar, mendorong siswa menjadi peserta aktif dalam proses belajar, mendorong siswa agar lebih banyak berinteraksi di kelas, mendorong siswa menjadi kreatif, memberikan pelayanan kepada perbedaan individu, menggunakan berbagai sumber belajar, memberikan balikan, serta menilai hasil belajar siswa dengan berbagai cara. Tujuan pembelajaran dn bahan kajian, serta program pendidikan yang tidak kaku merupakan prinsip CBSA yang dilihat dari bahan kajian yang diajarakan, sedangkan situasi belajar yang menrapkan prinsip CBSA terlihat pada adanya interaksi yang hangat dan adanya kegembiraan dan kegairahan belajar.

3. Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK )
Kurikulum 2004 yang dikembangkan untuk memperbaiki dan memperbaharui kurikulum 1994 dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Munculnya KBK sebagai pendekatan belajar adalah sebagai implikasi diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based Management (SBM) adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi atau kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan seluruh masyarakat sekolah secara langsung sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (Susilana, 2009). MBS mendorong sekolah untuk berinovasi, mendesain kembali organisasi sekolah, serta menciptakan perubahan dalam proses pembelajaran. Sesuai amanat MBS yakni mencipatakan perubahan dalam proses pembelajaran, KBK merupakan jawaban untuk perubahan tersebut. Dengan pendekatan ini, kurikulum lebih menekankan pada kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai siswa. Artinya, yang diperlukan bukanlah banyaknya bahan materi yang diajarkan seperti pada kurikulum berbasis isi, namun lebih pada kompetensinya. KBK berisi kompetensi atau kemampuan dasar yang harus dicapai oleh peserta didik melalui materi pokok dan indikator pencapaian hasil belajar yang telah ditetapkan. Kompetensi dasar ini terdiri dari empat kompetensi yakni kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi kultural, dan kompetensi temporal. Selanjutnya, KBK memiliki karakteristik sebagai pendekatan yang menitikberatkan pada pencapaian target kompetensi, mengakomodasi beragam kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia, dan memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

4. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP )
Sejarah KTSP dimulai dari lahirnya kurikulum 2004 yang disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum 2004 sendiri hadir seiring dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyiratkan semangat desentralisasi penyelenggaraan pendidikan. Dalam perjalanannya dan disesuaikan dengan tuntutan perkembangan dari kebijakan desentralisasi, otonomi, fleksibilitas, dan keluwesan penyelenggaraan pendidikan, Pemerintah melakukan penyempurnaan KBK melalui pengembangan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP di setiap satuan pendidikan tetap mengacu pada standar nasional pendidikan yang mencakup standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar itu yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Menurut E. Mulyasa ( 2006 : 22 ), secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian otonomi kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Di balik semangat mendorong kreativitas pengajar untuk melakukan inovasi dalam pengembangan pembelajaran, terdapat kritik terhadap implementasi KTSP. Kande (2008) menguraikan apabila dikaitkan antara standar isi dengan standar kelulusan, seharusnya keduanya berjalan serasi. Namun ketika kompetensi yang ditetapkan tersebut hanya diukur dari satu sudut pandang saja melalui Ujian Nasional dengan sangat mengecilkan arti dari ketentuan dalam PP Nomor 19 tahun 2005 Pasal 27 Ayat 1 bahwa peserta didik dinyatakan lulus tidak hanya diukur dari hasil Ujian nasional saja, maka implementasi KTSP masih tidak sesuai dengan aturan. http://re-searchengines.com/
Bila kecenderungan membuat kebijakan yang mewajibkan pengajar menerapkan srategi pembelajaran tertentu akan terus berlanjut pada masa yang akan datang maka pengajar akan pasif dan tidak inovatif. Sementara itu pembuat kebijakan akan terus disibukkan mencari dan menginstruksikan penerapan kebijakan baru dari waktu ke waktu agar disebut inovatif. Di sisi lain para guru tidak pernah mendapat kesempatan mengaplikasikan kebijakan tersebut karena keterbatasan waktu dan sumberdaya pendukung di sekolah masing–masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: