UT Pokjar Lebaksiu

Sumber informasi & Silaturrahmi Mahasiswa

Metode Inquiry

Pembelajaran IPA  di sekolah selalu mengacu pada kurikulum IPA. Di dalam kurikulum  telah ditegaskan bahwa pembelajaran IPA harus menekankan pada penguasaan kompetensi melalui serangkaian proses ilmiah (Depdiknas, 2006). Proses pembelajaran IPA yang diharapkan adalah yang dapat mengembangkan keterampilan proses, pemahaman konsep, aplikasi konsep, sikap ilmiah siswa, serta mendasarkan kegiatan IPA  pada isu-isu yang berkembang di masyarakat,  (Horsley, et al, 1990:40-42).

Hasil kajian di lapangan menunjukkan masih banyak ditemukan pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan metode ceramah sehingga siswa beranggapan bahwa IPA bersifat hafalan. Konsep-konsep IPA dalam proses pembelajaran di kelas kurang menekankan penguasaan Keterampilan Proses Sains (KPS), siswa jarang dilibatkan dalam kegiatan eksperimen dan pembelajaran kurang dikaitkan dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Struktur pembelajaran yang dikembangkan masih kurang menunjukkan struktur pembelajaran yang sesuai dengan hakekat IPA. Akibatnya sasaran hasil belajar siswa seperti yang ditegaskan di dalam kurikulum belum dapat dicapai secara optimal khususnya KPS. Di lapangan masih banyak guru yang belum siap untuk melaksanakannya dengan alasan sistem penilaian yang tidak mendukung, dan KPS dirasa tidak diperlukan karena tidak pernah dimunculkan dalam soal ujian.

Dari temuan-temuan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa permasalahan yang terkait dengan proses pembelajaran IPA di sekolah. Dengan demikian guru perlu meningkatkan kemampuan penguasaan materi ajar, penguasaan pedagogik, kemampuan menterjemahkan kurikulum dalam merancang pembelajaran, kemampuan melakukan penilaian, dan keterampilan mengajar. Untuk itu perlu ada upaya pembinaan terhadap kompetensi guru tersebut yang lebih difokuskan pada upaya pemberdayaan guru sesuai kapasitas serta permasalahan yang dihadapainya masing-masing sehingga kualitas pembelajaran IPA di sekolah dapat meningkat yang pada akhirnya dapat membekali siswa kemampuan-kemampuan IPA yang diperlukan.

Lesson Study merupakan model pembinaan yang dapat dijadikan alternatif solusi masalah-masalah yang dihadapi para guru. Lesson Study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas, dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana, dkk., 2007). Lesson Study bukan metode atau strategi pembelajaran, tetapi kegiatan lesson study dapat menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru. Salah satu alternatif model pembelajaran IPA yang diterapkan untuk meningkatkan keterampilan proses siswa yang dapat memberikan penguatan terhadap kualitas pembelajaran IPA di sekolah sebagai sarana penelitian adalah model pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Kegiatan dilakukan melalui implementasi lesson study. Model pembelajaran inkuiri dirancang untuk mendorong siswa melakukan kegiatan penyelidikan, berpikir kritis, mengembangkan berbagai keterampilan dan melakukan penerapan. Berarti, prinsip pembelajaran IPA adalah proses aktif. Proses aktif memiliki implikasi aktivitas mental dan fisik. Artinya hands-on activities saja tidak cukup, melainkan juga minds-on activities. Oleh karena itu pembelajaran IPA di sekolah harus menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

Inkuiri (inquiry) secara harfiah berarti penyelidikan. Carind & Sund (Mulyasa, E., 2005:108) menyatakan bahwa “inquiry is the process of investigating a problem” artinya bahwa inkuiri adalah proses penyelidikan suatu masalah. Kuslan dan stone (Wartono, 1996:29) mendefinisikan inkuiri sebagai pengajaran dimana guru dan siswa mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan jiwa para ilmuwan. Dalam sebuah kumpulan definisi inkuiri di inquiry page (2004) menyatakan bahwa inkuiri merupakan suatu pendekatan pada 3 pembelajaran yang melibatkan suatu proses penyelidikan yang alami atau material world, yang mendorong siswa untuk bertanya, membuat penemuan dan menguji penemuan itu melalui penelitian dalam pencarian suatu pemahaman baru. Inkuiri yang berhubungan dengan pendidikan Sains harus mencerminkan penyelidikan. Dengan demikian Proses belajar mengajar melalui inkuiri ini selalu melibatkan siswa dalam kegiatan diskusi dan eksperimen.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, jelas bahwa model inkuiri dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang terpusat pada siswa, dimana siswa didorong untuk terlibat langsung dalam melakukan inkuiri yaitu bertanya, merumuskan permasalahan, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, berdiskusi dan berkomunikasi. Dalam pembelajaran ini siswa menjadi lebih aktif. Guru berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk terampil berpikir (minds-on activities) karena mereka mengalami keterlibatan secara mental dan terampil secara fisik (hands-on activities) seperti terampil menggunakan alat, terampil merangkai peralatan percobaan dan sebagainya. Pelatihan dan pembiasaan siswa untuk terampil berpikir dan terampil secara fisik tersebut merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih besar yaitu tercapainya keterampilan proses ilmiah, sekaligus terbentuknya sikap ilmiah disamping penguasaan konsep, prinsip, hukum dan teori.

One response to “Metode Inquiry

  1. azamroni April 7, 2011 at 1:36 pm

    Registrasi sampai kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: