UT Pokjar Lebaksiu

Sumber informasi & Silaturrahmi Mahasiswa

Pesantren, Model Percontohan ESQ

Meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan undang-undang terkait konsep satuan pendidikan ideal, -Depdiknas dengan program Rintisan Sekolah Kategori Mandiri/Standar Nasional (RSSN/RSSN) dan Depag melalui program Madrasah Modelnya- akan tetapi masih banyak komunitas edukatif yang kebingungan dalam hal penerapan di lapangan. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak menetapkan sebuah model satuan pendidikan ideal yang jelas dan konkret dan hanya sebatas konsep teoritis abstrak, sehingga menimbulkan berbagai macam interpretasi.

Satuan pendidikan ideal yang bisa memenuhi standar nasional, sekaligus sebagai pelopor pendidikan berbasis ESQ adalah pesantren. Pesantren yang dimaksud disini adalah pesantren modern, yang tetap mempertahankan sistem salaf dan mengkombinasikannya dengan perkembangan global.

Dewasa ini, pesantren modern telah banyak berbenah dan berkembang dengan pesatnya. Berdasarkan data dari Departemen Agama, di tahun 2008 saja terdapat 21521 pesantren yang tersebar di tanah air, dengan 9639 pesantren bercorak kombinasi. Angka ini menjadi sebuah bukti bahwa pesantren seharusnya sudah dapat diberdayakan secara optimal, terutama dalam mencetak generasi SDM yang berkarakter cerdas komprehensif.
Beberapa nilai plus pesantren yang tidak dimiliki pendidikan konvensional, antara lain:

Pertama, di pesantren, ilmu-ilmu transedental tetap menjadi prioritas, namun pesantren juga tetap membuka kelas bahasa asing, kelas IPTEK, dan fasilitas lain pendukung kompetensi kognisi.
Pesantren Mahasiswa (Pesma) SDM IPTEK di Tegal Jawa Tengah misalnya, memberikan sebuah angin segar baru dalam inovasi pendidikan. Di pesantren ini, mahasiswa tidak hanya digenjot dengan berbagai pengajian agama dan pembinaan mental, tetapi juga penguasaan IPTEK melalui program technopreneurship. Di satu sisi, santri boleh memilih universitas berkualitas manapun di luar pesantren sambil tetap mondok dan bersedia mematuhi segala norma yang ditetapkan di pesantren.

Kedua, budaya mondok di asrama, membantu internalisasi nilai-nilai ESQ ke semua lapisan di lingkup pesantren. Di asrama, siapapun mendapatkan perlakuan yang sama, posisi guru dan murid sejajar dalam kewajiban menaati etika yang sudah ditetapkan. Bagaimanapun juga, pembentukan karakter membutuhkan pembentukan kebiasaan, dan kebiasaan ini akan lebih optimal jika proses pendidikan diterapkan secara kontinyu sebagaimana dalam sistem mondok pesantren.
Ketiga, di pesantren, keteladanan seorang pendidik adalah sebuah keniscayaan, sehingga membantu internalisasi nilai-nilai ESQ secara alami kepada seluruh peserta didik. Tidak diprioritaskan pendidik yang cerdas IQ, tetapi pendidik yang capable dalam ilmu-ilmu agama dan memiliki kualitas moral yang baik sudah memenuhi kualifikasi sebagai seorang guru di pesantren.

Sebaliknya, pada pendidikan non-pesantren, seorang guru cukup dengan berbekal ijazah “PNS” dan embel-embel gelar akademik, sudah bisa dianggap layak menjadi seorang pendidik, dan kualitas ESQ dinomorduakan. Tak heran, jika masih saja terjadi kasus pelecehan seksual seorang guru terhadap muridnya, dan model kriminalitas lainnya.
Keempat, pesantren lebih bersifat ekonomis. Biaya masuk di pesantren modern relatif lebih murah dibanding dengan sekolah-sekolah konvensional yang berasrama lainnya. Salah satu penyebabnya adalah karena di pesantren menerapkan tradisi hidup sederhana dan bekerjasama dengan masyarakat sekitar pesantren.

Terakhir, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di tanah air yang memiliki berbagai karakteristik dan corak kultural khas. Penetapan pesantren sebagai model percontohan pendidikan yang ideal dan mensejajarkannya dengan lembaga-lembaga pendidikan lain merupakan salah bentuk pelestarian akan warisan budaya Indonesia.
Berbekal nilai plus tersebut, pesantren diharapkan mampu menelurkan bibit-bibit akademis berkarakter saleh, berakhlak mulia, memiliki kualitas ilmu agama, sekaligus berkompeten dalam bidang IPTEK. Pemerintah sebagai motivator dan fasilitator, hendaknya memberikan dukungan penuh terhadap model pesantren inovatif melalui berbagai apresiasi berikut:

1. Pemberian status akreditasi yang jelas dan penyetaraan ijazah, sebagai bukti pengakuan pemerintah dan masyarakat terhadap pesantren yang selama ini terkesan dianak-tirikan.
2. Penyediaan bantuan sarana dan prasarana IPTEK, terutama pesantren-pesantren di wilayah terpencil agar mampu bersaing dalam kualitas intelektual. Di satu sisi, dengan adanya bantuan pemerintah, pesantren tidak perlu lagi menaikkan biaya operasional sehingga tetap menjadi lembaga pendidikan murah dan dapat diakses lapisan masyarakat manapun.
3. Penghargaan terhadap tenaga pengajar pesantren yang menerapkan pendidikan berbasis karakter, misalnya memperhatikan gaji minim guru/ustaz yang disebabkan oleh modal pendanaan pesantren yang tidak sebesar pendidikan konvensional.
4. Penetapan sebuah pesantren sebagai model sekolah berstandar nasional yang ideal, baik melalui peraturan pemerintah, maupun dengan perantara publikasi massal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: